Pak Broto seorang seniman sejati. Kadang
kolot, kadang moderat. Lukisannya dari yang bergambar Punakawan sampai
wajah indah Kota Awan. Bisa bermain alat musik Sasando, Rebana, Gamelan
hingga Gitar dan Piano. Sangat multi-talented. Suatu hari Romo dateng ke
rumah beliau. Pak Broto menyambutnya dengan dialektika universal.
“Sugeng enjang Romo, monggo lenggah rumiyin.” Kata Pak Broto. Indah
sekali persahabatan mereka bagai kawan lama yang bertemu kembali.
Ternyata maksud dan tujuan Romo ingin mengundang Pak Broto berpentas
musikal di Katredal pada perayaan Paskah. Kesepakatan cepat pun
terjalin, Romo pulang dengan kepala dingin.
Namun para tetangga
tidak suka dengan sikap Pak Broto. Orang Islam tidak boleh turut
merayakan hari Paskah, kata mereka. Dari segi jasadiyah dan rohaniyah,
maupun tradisi dan budaya, itulah nilai-nilai yang di”kerdil”kan. Masuk
gereja “najis”, ikut merayakan haram, lalu musik harus yang berbau
“Arab”, alat musik harus terbangan, semua harus arabisasi. Pak Broto
surut untuk galau, dia mampu menjalankan hak prerogatif terhadap
sikapnya. Untung beliau orang Jawa, setidaknya memiliki pembenaran.
Pertama, Pak Broto paham dengan Nilai Dasar Kepercayaan. Baginya, Tuhan
hanya membuat satu agama. Beberapa agama lain merupakan bentuk-bentuk
ajaran “samawi”, beberapa yang lain adalah agama “bumi”. Inilah pondasi
pemikiran Pak Broto. Kedua, semua manusia secara horizontal sama,
walaupun dengan agama, ras, suku, bahasa, dsb yang melambangkan
ke-plural-an. Plural merupakan sunnatallah, manusia tinggal mengolahnya.
Kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan merupakan pilar-pilar yang
menopang bangunan kehidupan. Gus Dur pernah berkata, “Berbuat baiklah
pada orang lain, orang lain tidak akan tanya apa agamamu.”
Nelson
Mandela, salah satu contoh tokoh pejuang pilar-pilar bangunan
kehidupan. Beliau bukan ingin menjadikan kulit hitam sebagai penguasa
“Horn Cape”, dan tidak menjadikan kulit putih sebagai pihak yang
bersalah. Sikap rasial, diskriminatif dan marginalisasi adalah
frame-frame yang patut dihapuskan. Pada pidato kepresidenan, beliau
membuat seantero Afrika Selatan terenyuh, “No one is born hating another
person because of the colour of his skin, or his background, or his
religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they
can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart
than its opposite.”
Musik hanyalah alat. Alat yang digunakan
untuk bersenandung, mensyukuri alunan indah, bahasa universal manusia
atau kata orang Sufi untuk menemukan Allah. Ada 2 orang, yaitu si A
beragama Syiah, sedangkan si B beragama Syibeh. Mereka sama-sama naik
bemo menuju Ponorogo. Si A dan si B adalah subjek, bemo adalah alatnya.
Analogi tersebut jika dikaitkan dengan musik sama. Mau keroncong, pop,
RnB, rock sampai musik arab adalah alat yang digunakan oleh subyek.
Tak perlu kita mengubah aku menjadi ana, sampean menjadi antum, dan
kalian menjadi akhi. Kita pertahankan kearifan lokal. Kita serap
ajarannya, bukan budayanya. Budaya-budaya lokal di bidang musik, tarian,
makanan, sampai tontonan harus dilestarikan. Pertahanan bangsa yang
utama adalah pertahanan budaya. Jangan sampai propaganda asing
menjadikan Indonesia sebagai ladang budaya barat dan timur yang
menimbulkan disintegrasi, kehilangan identitas, dan egoisme budaya.
Ya, Pak Broto perlu memperdalam pemikiran Gus Dur. Manusia sekarang
menjadikan Islam sebagai agama umat Islam, namun Gus Dur memperjuangkan
Islam agama Rahmatan lil alamin.